Surprise Me!

Grha Persada

2014-06-02 1 31 Vimeo

Bangunan kantor sewa pertama di koridor jalan Kalimalang, selesai dibangun pada tahun 2012, direncanakan oleh pemiliknya untuk memberikan pilihan ruang kerja yang lebih ideal dibandingkan format ruang kerja yang saat ini didominasi oleh rumah toko (ruko) di sepanjang koridor ini. Tantangan paling besar dari proyek ini adalah, lahannya yang sangat terbatas. Luas lahan sekitar 1300 m2 dengan lebar lahan hanya 20 meter. Lebar lahan yang hanya 20 meter (setara dengan lebar 4 unit ruko), menyisakan persoalan yang rumit, sebab berbeda dengan bangunan ruko 3 lantai dengan total luas lantai sewa sebesar (675 m2) , bangunan kantor ini direncanakan memiliki total luas lantai sewa sebesar 2200 m2. Perbedaan luasan lantai ini memberikan konsekuensi akan kebutuhan luasan parkir yang lebih besar (pada bangunan ruko, perbandingan antara jumlah parkir mobil dengan luas lantai adalah 1 mobil : 100 m2), yang idealnya pada bangunan lapis banyak adalah 1 mobil : 60 m2. Menjadi rumit, selain karena harus menyediakan lahan parkir, adalah juga berarti harus merancang arus sirkulasi kendaraannya, dimana lahan lebar 20 m menjadi tatantangan yang sangat mengikat. Sebagai tambahan, di lahan ini hanya diijinkan pembangunan lantai bawah tanah sebanyak 1 lapis saja, mengingat lahan berada dekat dari sungai. Perihal konsumsi lahan untuk parker memang selalu menjadi dilema. Satu sisi ia ‘mengurangi’ nilai ekonomis lahan, tapi di sisi lain, bangunan komersial yang minim area parkir juga kehilangan daya tariknya. Di titik inilah, bayangan tentang jaringan transportasi publik yang masif dan memadai harusnya bisa jadi jawaban paling ideal. Pemakaian transportasi pribadi bisa turun karena adanya alternatif transportasi yang jauh lebih menjawab ‘semua’ kebutuhan. Kunci, strategi desain terkait tantangan lahan parkir ini adalah dengan mengangkat lantai sewa bangunan. Sehingga area ground (lantai dasar) bisa dimanfaatkan sebagai area parkir, ditambah dengan satu lantai bawah tanahnya. Area kiri kanan lahan dijadikan area sirkulasi kendaraan. Dampak dari dinaikkannya ‘bangunan’, selain memberi tambahan luas untuk parkir, dan memberi dampak visual yang menarik buat tampak muka bangunan (karena area lobi menjadi lebih terlihat), yang tak kalah penting adalah bangunan memberi kesempatan munculnya aliran udara ‘segar’ yang diproduksi oleh sungai dan pohon-pohon besar di seberangnya. Aliran udara inilah yang dimanfaatkan secara arsitektural dengan menghadirkan inner court (taman dalam) di area lobi lift. Area lift ini selain berfungsi untuk memecah massa bangunan menjadi dua massa utama (depan dan belakang), juga untuk memberi ruang ‘bernafas’ bagi para penyewa/ penghuninya kelak. Inilah yang kemudian diapresiasi oleh para penyewa, bahwa bangunan ini memiliki ‘rasa rumahan’. Rasa yang mungkin sebenarnya memiliki arti, bahwa menghuni di ruang dalam bangunan ini, kita ternyata masih berkesempatan untuk menikmati langit, matahari, pepohonan, dan semilir angin. Sesuatu yang tak didapat saat kita bekerja di ruang ruko. Di sini, mungkin kita diingatkan tentang naluriahnya kebutuhan kita, yang selalu 'memiliki kerinduan' untuk terkoneksi dengan alam dan lingkungan di sekeliling kita.

Buy Now on CodeCanyon