JAKARTA, KOMPAS.TV - Banyak yang menyebut virus penyebab penyakit yang saat ini tengah merebak adalah virus corona biasa. Padahal, virus corona terdiri dari beberapa jenis. <br /> <br />Juru bicara Republik Indonesia terkait penanganan virus corona, Achmad Yurianto kemudian mengkonfirmasi bahwa virus yang merebak pertama kali di Wuhan, China, bernama SARS-CoV-2. Sementara penyakitnya disebut Covid-19. Hal ini juga sesuai dengan yang diumumkan oleh WHO beberapa waktu lalu. <br /> <br />\"Referensi WHO menyatakan bahwa nama penyakit adalah COVID-19. Penyebabnya virus yang namanya SARS Coronavirus tipe 2 atau kalau digampangkan (contoh lain), penyakitnya tifus penyebabnya kuman yang namanya salmonella,\" kata Yuri dalam konferensi pers pada Selasa pekan lalu di Jakarta, ditulis Kamis (5/3/2020). <br /> <br />Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai bagaimana virus ini menyebar? Banyak yang beranggapan virus ini bisa menyebar melalui udara. <br /> <br />Merujuk pada data yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus SARS-CoV-2 menyebar dari satu orang ke orang lainnya lewat kontak dalam radius 1,8 meter. Pasien yang menderita Covid-19 menyebarkan partikel-partikel virus lewat droplets (dahak) yang lewat batuk atau bersin. Partikel tersebut bisa masuk dalam tubuh lewat mulut atau hidung. <br /> <br />CDC juga mengatakan bahwa ada kemungkinan seseorang tertular Covid-19 lewat virus yang menempel di permukaan sebuah benda. Namun, CDC mempercayai bahwa itu bukanlah cara utama penularan virus corona. <br /> <br />Penelitian membuktikan bahwa virus SARS-CoV-2 di udara akan mati jika terkena suhu melebihi 30 derajat Celcius. Bahkan Kemenkes menyebut, virus akan mati dalam waktu yang singkat sesaat keluar dari tubuh. <br /> <br />\"Virus itu enggak nular kalau enggak ada kontak langsung,\" ujar Achmad Yurianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 2 Maret 2020. <br /> <br />\"Virus itu harus ada inangnya. Kalau di luar tubuh, 5-10 menit mati dia,\" ujar Yuri. <br /> <br />Peneliti kemudian membandingkan virus SARS-CoV-2 dengan virus cacar. Virus cacar, bisa bertahan berjam-jam lamanya usai penderita bersin atau batuk. Para peneliti mempercayai SARS-CoV-2 bukanlah virus seperti itu. <br /> <br />Maka, penggunaan masker lebih diutamakan bagi mereka yang sakit. Agar penderita tidak menyebarkan langsung virus kepada orang lain. <br /> <br />