JAKARTA, KOMPASTV - \"Ekonomi bisa bangkit, nyawa tidak\" sebuah \"magic quote\" seorang Akufo-Addo yang merupakan Presiden Ghana. Ini adalah pernyataan luar biasa seorang pemimpin negara dalam merespons pandemi covid-19 alias corona yang tidak pandang negara. <br /> <br />Terlihat sederhana dan singkat tetapi punya makna luar biasa. Di penegasan ini, kedudukan ekonomi nomor dua, yang utama adalah kesehatan manusianya. <br /> <br /> <br />Data WHO dan bank dunia di tahun 2017 menunjukkan pertama adalah kesiapan rumah sakit di lihat dari jumlah kasur. Ini dengan mengansumsikan semua penduduk sebuah negara mendadak sakit. <br /> <br />Jadi, untuk seribu pasien yang sakit dan harus rawat inap, Korea Selatan dianggap lebih siap. <br /> <br />Lalu bagaimana dengan ruangan intensive care unit alias ICU? Kita pakai perbandingan angka yang lebuh besar yaitu seratus ribu. Singapura yang terbaik, lalu Korea Selatan, Tiongkok, Malaysia, Indonesia. <br /> <br />Covid-19 yang jadi pandemi membuat fasilitas kesehatan ini mendadak tidak cukup. Banyak pasien yang jatuh meninggal karena jangankan dapat ventilator untuk \"menyambung nyawa\", untuk dapat perawatan pun sulit. <br /> <br />Kementerian keuangan akhirnya mengutak atik anggaran negara untuk mengatasi covid-19. Tetapi dana ini bukan uang baru melainkan hasil realokasi dana yang sudah ada senilai 121,3 Triliyun Rupiah. <br /> <br />Kembali ke prinsip Presiden Ghana, Ekonomi bisa bangkit, nyawa tidak. Sulit diterima logika, jika Indonesia memaksakan infrastruktur, tetapi manusianya berjatuhan sakit. <br /> <br />
