TEMANGGUNG, KOMPAS.TV - Penyandang tunanetra memiliki kebutuhan untuk bermobilisasi secara mudah dan aman tanpa bantuan orang lain. <br /> <br />Namun kondisi jalan dan ruang publik kerap kali tidak memungkinkan hal tersebut. <br /> <br />Panti pelayanan sosial disabilitas sensorik netra "penganthi" Temanggung, Jawa Tengah pun berinovasi dengan menciptakan rompi dan tongkat penuntun berbasis teknologi. <br /> <br />Menggunakan teknologi sensor parkir pada mobil, rompi penuntun akan mengeluarkan bunyi ketika ada obyek di depannya dalam radius 2 meter, baik itu benda maupun orang. <br /> <br />Tongkat penuntun juga melakukan hal yang sama. <br /> <br />Memberikan sinyal berupa suara jika ada lubang atau genangan air. <br /> <br />Teknologi pada rompi dan tongkat penuntun akan membantu penyandang tunanetra beraktivitas dengan aman. <br /> <br />Sejumlah penyandang tunanetra di panti "penganthi" sudah mulai menggunakan rompi dan tongkat berteknologi canggih ini. <br /> <br />Dengan adanya rompi dan tongkat ini diharapkan para tunanetra semakin percaya diri saat beraktivitas. <br /> <br />Rompi penuntun menggunakan baterai yang bisa diisi ulang, satu kali pengisian bisa digunakan selama 42 jam. <br /> <br />Pembuatan satu set perlengkapan rompi dan tongkat penuntun ini menghabiskan biaya sekitar Rp 400.000,-. <br /> <br />