BANJARMASIN, KOMPAS.TV - Bukan sedang sibuk memainkan game online seperti bocah pada umumnya, anak-anak di Gang pendamai Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan justru asik bermain balogo. <br /> <br />Balogo adalah permainan khas masyarakat Suku Banjar yang populer sebelum era tahun 2000-an. <br /> <br />Balogo merupakan permainan tradisional yang dimainkan dengan cara meruntuhkan kepingan yang disebut logo yang disusun berbaris dari jarak jauh menggunakan alat bernama penapak. <br /> <br />Tak hanya balogo, anak-anak juga memainkan permainan tradisional bagasing. <br /> <br />Yaitu benda yang sedemikian rupa dibuat dari kayu, seutas tali diikat pada gasing dan dilemparkan dalam sebuah arena. <br /> <br />Permainan ini juga jarang dimainkan anak-anak saat ini. <br /> <br /> <br />Di Banjarmasin, permainan rakyat ini bisa ditemui di Kampung Permainan Tradisional yang berlokasi di jalan teluk tiram tepatnya di Lorong Gang Pendamai. <br /> <br />Kampung permainan tradisional ini berawal dari inisiatif Ketua Barisan Pemadam Kebakaran Pendamai, Muhammad Suriani yang ingin mengenalkan permainan tradisional seperti balogo dan bagasing kepada cucunya. <br /> <br />Niat ingin mengajari cucunya ini malah ditanggapi positif oleh anak-anak di sekitar rumah yang turut ikut bermain. <br /> <br />Sehingga dari sanalah tepatnya di awal tahun 2016, Suriani mulai merutinkan membuat alat-alat beragam permainan tradisional agar anak-anak tidak cenderung pada game online. <br /> <br />"kadang-kadang satu hari mereka main disini, satu hari mereka main permainan tradisional jadi mereka lupa dengan handphone, jadi lebih mencintai permainan tradisional," Ucap Suriani. <br /> <br />Melalui permainan tradisional ini, Suriani berharap banyak keuntungan dapat dipetik. <br /> <br />Diantaranya nilai kebersamaan, mengasah daya pikir dan gerak, serta nilai sportivitas. <br /> <br />Tentunya agar permainan tradisional Khas Banjarmasin tidak punah. <br /> <br />Suriani berharap pemerintah ataupun warga setempat bisa membangun kampung-kampung permainan tradisional disetiap kecamatan dan juga bisa dimasukkan didalam kurikulum sekolah. <br /> <br />
