Tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Peringatan ini berawal dari kesadaran akan ancaman krisis air global. <br /> <br />Di Indonesia, para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi sumber air di seluruh Jawa akan kering pada tahun 2040. <br /> <br />Dilansir dari BBC (5/8/2019), Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJMN Bappenas 2019 mencatat ketersediaan air untuk setiap satu penduduk Jawa diprediksi akan terus menurun hingga mencapai 476 meter kubik per tahun pada 2040. <br /> <br />Angka itu dikategorikan kelangkaan total, sebab menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono ketersediaan air ideal untuk satu orang setiap tahun adalah 1.600 meter kubik. <br /> <br />LIPI menyebut ada tiga faktor pemicu krisis air di Jawa yaitu perubahan iklim, pertambahan penduduk, dan alih fungsi lahan. <br /> <br />Krisis air dapat berdampak pada kerusakan ekosistem, masalah sanitasi, gagal panen, pertumbuhan hasil perkebunan melambat, hingga ancaman gangguan suplai energi listrik karena 31 pembangkit listrik di Pulau Jawa digerakkan air. <br /> <br />Pakar LIPI Heru Santoso menyatakan, edukasi tentang ancaman krisis air perlu disampaikan untuk mendorong perubahan budaya agar masyarakat menyadari pentingnya menghemat penggunaan air. <br /> <br />Cara menghemat air dapat dimulai dari hal sederhana, seperti: <br /> <br />Mematikan keran air saat mencuci tangan atau menyikat gigi dapat menghemat hingga 25 galon air per bulan. <br /> <br />HIndari kebiasaan mandi yang memakan banyak waktu, dan sebaiknya gunakan pancuran saat mandi untuk menghemat lebih dari 60 persen air. <br /> <br />Keran yang bocor dapat menghabiskan air hingga 15 liter sehari, sebaiknya perbaiki segera sebelum kebocoran semakin parah. <br /> <br />Jika menggunakan mesin, cucilah pakaian saat tumpukan baju cukup banyak dan sesuai kapasitas mesin. <br /> <br />Air hujan yang ditampung dalam gentong atau wadah lainnya bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman atau mencuci mobil.(*) <br /> <br />Grafis: Agus Eko <br /> <br />
