KOMPAS.TV - Peralatan sistem pertahanan Indonesia akan diremajakan dengan pendanaan utang luar negeri. <br /> <br />Melalui Kementerian Pertahanan, Pemerintah akan membeli sejumlah alat pertahanan negara, lewat pinjaman sejumlah negara 100 triliun rupiah. <br /> <br />Dirjen Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Rodon Pedrason, menyebut pinjaman lunak ini akan dicicil hingga 28 tahun dengan bunga 1 persen dan tidak membebani keuangan negara. <br /> <br />Rancangan Perpres tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat-Peralatan Pertahanan dan Keamanan Kementerian Pertahanan dan TNI 2020 2024, saat ini dikebut pemerintah. <br /> <br />Total kebutuhan modernisasi alutsista dalam rancangan Perpres ini disebut-sebut membutuhkan anggaran fantastis hingga Rp 1,7 kuadriliun atau sekitar 1.750 triliun rupiah. <br /> <br />Pengamat Militer dan Pertahanan Connie Rahakundini Bakrie, belum lama ini sempat mengungkap dugaan sosok mafia pengadaan alutsista dan mendesak pihak Kementerian Pertahanan melibatkan KPK. <br /> <br />Pengamat Militer dan Pertahanan, Connie Bakrie mengkritisi anggaran pemerintah yang dinaikkan 10 kali lipat namun harus dihabiskan dalam waktu yang begitu singkat yaitu 2024. <br /> <br />Anggota Komisi I DPR, Syaifullah Tamliha menyebutkan Komisi I DPR selalu membahas bersama Kementerian Pertahanan termasuk Prabowo terkait alat tempur apa saja yang akan dibeli. <br /> <br />Connie sangat mendukung modernisasi alutsista namun benar-benar harus dilihat apa saja kebutuhan yang mendesak dan alutsista apa yang sangat prioritas untuk dibeli. <br /> <br />Dengan kata lain, Connie meminta pemerintah untuk memetakan dengan jelas strategi dan perencanaannya serta adanya transparansi dan akuntabilitas anggaran. <br /> <br />Menyangkut kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, pemerintah tidak hanya dituntut mengadakan alutsista canggih. Transparansi dan profesionalisme pengadaan hingga perawatan alat tempur ini juga wajib jadi pegangan. <br /> <br />Simak dialog selengkapnya bersama Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP, Syaifullah Tamliha serta Pengamat Militer dan Pertahanan, Connie Bakrie. <br /> <br />