JAKARTA, KOMPASTV - Penderita sleep apnea, henti napas saat tidur pada penderita sleep apnea bisa muncul setiap saat, termasuk saat tubuh dalam kondisi fit. <br /> <br />Namun tidak semua kondisi henti napas saat tidur bisa disebut sleep apnea. <br /> <br />Menurut sleep foundation, seseorang dikatakan mengalami sleep apnea apabila sesi napas berhenti saat tidur berlangsung setidaknya 10 detik. <br /> <br />Gejala sleep apnea bisa muncul karena penderitanya tidak mendapatkan tidur yang berkualitas di malam hari. <br /> <br />Beberapa gejala sleep apnea yang kerap dialami penderitanya yakni, mendengkur keras, napas berhenti beberapa kali saat tidur, terbangun dalam kondisi terengah-engah, bangun tidur dengan kondisi mulut kering, sakit kepala di pagi hari, susah tidur, sering mengantuk di siang hari, kurang fokus atau konsentrasi, mudah marah dan lelah. <br /> <br />Penyebab sleep apnea bisa berbeda-beda, tergantung jenis sleep apnea. <br /> <br />Obstructive sleep apnea atau sleep apnea obstruktif, bisa disebabkan otot di bagian belakang tenggorokan rileks. <br /> <br />Ketika otot rileks, saluran napas bisa menyempit dan menutup jalan napas, sehingga sulit mendapatkan udara dan kekurangan pasokan oksigen dalam darah. <br /> <br />Saat kekurangan oksigen, otak akan mengirimkan sinyal ke tubuh untuk segara bangun dan membuka kembali jalan napas yang tertutup. <br /> <br />Saat terbangun, penderita sleep apnea akan tersedak, kaget, atau mendengus. Pola ini bisa berulang setiap lima sampai 30 kali setiap jam sepanjang malam saat tidur. <br /> <br />Sedangkan untuk apnea tidur sentral, kondisi ini bisa terjadi karena masalah otak yang gagal mengirimkan sinyal ke otot pernapasan. <br /> <br />Dampaknya seseorang jadi kehilangan refleks bernapas selama beberapa saat. <br /> <br />Sleep apnea sentral juga bisa membuat penderitanya terbangun, dalam kondisi sesak napas dan susah tidur kembali. <br /> <br />
