BALI, KOMPAS.TV - Tidak mudah menjangkau rumah keluarga Gede Wangi, warga Banjar Dinas Sigalgading, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali. <br /> <br />Jalan berliku dan terjal, harus ditempuh dengan berjalan kaki. <br /> <br />Keluarga Gede Wangi tinggal di hutan negara, perbatasan antara Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Bangli, di sebuah rumah yang tidak lagi layak huni. <br /> <br />Bersama tiga anggota keluarga lainnya, Gede Wangi mendiami bangunan dari bambu yang mulai lapuk ini, tanpa listrik, dan sumber air bersih. <br /> <br />Di usianya yang ke-60, Gede Wangi tidak sanggup lagi melakukan pekerjaan berat. <br /> <br />Untuk menghidupi keluarganya, Gede Wangi bekerja mencari rumput untuk dua sapi bagi hasil milik orang lain. <br /> <br />Tidak sanggup membeli beras, makanan utama keluarga ini adalah cacah ketela pohon yang dikeringkan, atau yang lebih dikenal dengan gaplek. <br /> <br />Pada tahun 2018, Gede Wangi masih menerima bantuan raskin, serta terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan nasional, dan bantuan pendidikan untuk anaknya, yang saat ini sudah lulus sekolah. <br /> <br />Namun sejak tahun 2019, keluarga ini tidak lagi menerima bantuan sosial dari pemerintah. <br /> <br />Data ganda dalam data Kesejahteraan Sosial Terpadu, menyebabkan keluarga ini tidak lagi berhak menerima bantuan. <br /> <br />Pemerintah desa berjanji akan memperbaiki data ini, agar keluarga Gede Wangi bisa kembali tercatat sebagai penerima bantuan kesejahteraan sosial, dari pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. <br /> <br />Pada tahun 2018, Gede Wangi juga sempat akan memperoleh bantuan bedah rumah. <br /> <br />Namun program ini tidak bisa terealisasi, karena Gede Wangi tak memiliki lahan sendiri. <br /> <br />Gede Wangi memang tidak banyak mengeluhkan kondisinya. <br /> <br />Namun sebagai warga negara, usahanya untuk mendapatkan hidup layak dan sejahtera, harus mendapat dukungan negara. <br /> <br />