PAPUA, KOMPAS.TV - Dokter Restu yang menjadi korban kekerasan kelompok teroris di Papua membantah memiliki senjata api. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya seorang tenaga medis yang bertugas untuk melayani masyarakat dan bukan mata-mata aparat. <br /> <br />Kelompok teroris di Papua mengungkapkan alasan penyerangan terhadap Puskesmas Kiwirok. Mereka menyebut bahwa penyerangan dilakukan karena dokter di Puskesmas Kiwirok adalah seorang mata-mata aparat TNI-Polri. <br /> <br />Kelompok teroris menyebut bahwa sang dokter sering membawa senjata api saat melaksanakan tugas di Puskesmas Kiwirok. <br /> <br />Baca Juga TNI-Polri Kembali Baku Tembak dengan KKB Pimpinan Lamek Taplo di Kiwirok Papua di https://www.kompas.tv/article/213498/tni-polri-kembali-baku-tembak-dengan-kkb-pimpinan-lamek-taplo-di-kiwirok-papua <br /> <br />Tudingan ini lantas dibantah oleh Dokter Restu yang menjadi korban penganiyaan dari kelompok teroris di Papua. <br /> <br />Dokter Restu mengatakan bahwa dia adalah warga sipil yang bertugas sebagai dokter dan melayani masyarakat. Ia mengaku tak pernah terlibat dengan aparat TNI-Polri. <br /> <br />Dokter Restu adalah salah satu tenaga medis yang dianiaya oleh kelompok teroris di Papua pada Senin (13/9/2021) lalu. Saat itu dia berusaha lari menyelamatkan diri namun ditangkap dan dianiaya yang menyebabkan tangannya patah. <br /> <br />Hingga berita ini ditulis, Dokter Restu sudah dioperasi dan dalam pemulihan di RS Marthen Indey Jayapura. <br /> <br />Video Editor: Febi Ramdani <br /> <br />Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/article/213543/dokter-korban-kekerasan-teroris-di-papua-bantah-jadi-mata-mata-aparat