KOMPAS.TV - Ketimpangan harga minyak goreng kemasan di pasar tradisional dan pasar modern menyusul kebijakan satu harga Rp 14 ribu per liter membuat pedagang pasar tradisional merugi karena sepi pembeli. <br /> <br />Di Pasar Tradisional Andir Kota Bandung, harga minyak goreng kemasan maupun curah masih tinggi. <br /> <br />Untuk minyak goreng kemasan dijual Rp 18 ribu per liter, sedangkan harga minyak goreng curah dijual Rp 9.500 per liter. <br /> <br />Baca Juga Daftar HET Minyak Goreng yang Mulai Berlaku Februari 2022, Tak Lagi Sama Rata Rp14.000 Per Liter di https://www.kompas.tv/article/256180/daftar-het-minyak-goreng-yang-mulai-berlaku-februari-2022-tak-lagi-sama-rata-rp14-000-per-liter <br /> <br />Dengan harga ini, pedagang yang biasanya bisa menjual 75 liter per hari. Kini rata-rata hanya mampu menjual 25 liter minyak goreng dalam sehari karena banyak pembeli beralih ke retail modern. <br /> <br />Di Pasar Meteseh Kota Semarang stok minyak goreng kemasan di sejumlah toko kosong. Pedagang hanya menjual minyak goreng curah itupun dengan harga Rp 19 ribu per kilogram. <br /> <br />Para pedagang mengaku, sejak 19 Januari lalu belum ada pasokan minyak goreng kemasan dari distributor. <br /> <br />Pembeli pun terpaksa membeli minyak goreng curah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. <br /> <br />Penyeragaman satu harga minyak goreng kemasan Rp 14 ribu per liter membuat stok minyak goreng kemasan menjadi langka di pasaran. <br /> <br />Di sisi lain, pedagang yang menyimpan stok minyak dengan harga lama merasa dirugikan, Minyak goreng curah pun ikut-ikutan naik karena menjadi pilihan sebagian masyarakat. <br /> <br />YLKI menengarai ada permainan kartel minyak goreng di balik gejolak harga dan kelangkaan salah satu sembako ini. <br /> <br />Sementara, KPPU mulai menyelidiki dugaan pelanggaran praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. <br /> <br />Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/article/256191/dibalik-gejolak-harga-dan-kelangkaan-ada-permainan-kartel-minyak-goreng
