Surprise Me!

Pengamat : Etika Politik Harusnya Presiden Bersikap Netral

2022-12-13 55 Dailymotion

SEMARANG, KOMPAS.TV - Meski Pemilu 2024 masih 2 tahun lagi, namun kondisi suhu politik sudah mulai menggeliat. Terlebih pasca Partai Nasdem mendeklarasikan bakal calon presiden, Anies Baswedan. <br /> <br />Dalam beberapa kesempatan Presiden Joko Widodo juga sempat terkesan mengendorse nama-nama yang digadang-gadang akan maju dalam Pilpres 2024. Seperti nama Prabowo yang sempat disinggung saat HUT Partai Perindo, Jokowi sempat mengatakan "setelah ini jatahnya Pak Prabowo". <br /> <br />Maupun sosok Ganjar Pranowo yang banyak dikaitkan masyarakat dengan sosok berambut putih, yang disebut Jokowi saat acara di GBK. <br /> <br />Disisi lain, banyak netizen yang menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, presiden selaku pengayom dan pelindung rakyat Indonesia, harusnya berada pada posisi netral dan tidak terkesan mengendorse satu atau dua orang. <br /> <br />Hal ini juga mendapat tanggapan dari pengamat politik Undip, Teguh Yuwono, yang mengatakan secara perspektif etika politik, harusnya presiden berada di tengah agar pemilu 2024 bisa berkompetisi secara sehat. <br /> <br />"Dalam perspektif etika politik akan lebih baik kalau Presiden Jokowi berada dalam posisi yang mengayomi semua pihak, berada di tengah-tengah semua pihak. Sehingga tidak ada kesan bahwa beliau membela atau memilih salah satu orang untuk menjadi calon presiden," jelas Teguh. <br /> <br />Presiden Joko Widodo, sebelumnya juga menghadiri acara temu relawan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (26/11/2022). Kegiatan bertajuk Gerakan Nusantara Satu yang disebut-sebut dihadiri oleh sekitar 150.000 relawan Jokowi tersebut banjir kritikan termasuk dari PDIP sendiri, maupun pengamat dan masyarakat luas. <br /> <br />#pilpres2024 #jokowi #aniesbaswedan <br /> <br />Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/article/357991/pengamat-etika-politik-harusnya-presiden-bersikap-netral

Buy Now on CodeCanyon