TASIKMALAYA, KOMPAS.TV - Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino melanda Indonesia sejak pertengahan 2023, produksi pangan terancam akibat sawah mengering. <br /> <br />Tak ingin menyerah pada kemarau, sekelompok petani di Rajapolah Tasikmalaya memanfaatkan tekonologi tradisional kincir air raksasa. <br /> <br />Petani yang menjadi perancang atau arsitek kincir air raksasa itu adalah Odo Hadori. <br /> <br />Dia mengomandoi para petani lain untuk membuat kincir air setiap musim kemarau datang. Ini adalah satu-satunya harapan para petani untuk bisa tetap panen di musim kemarau. <br /> <br />Kemampuan Odo Hadori membuat kincir air didapat turun temurun dari kakek dan ayahnya. Prinsip kerja kincir air adalah memanfaatkan aliran sungai untuk memutar kincir lalu memindahkannya ke sawah warga. <br /> <br />Biaya pembuatan sekitar 8 buah kincir air adalah Rp 2 juta dari swadaya masyarakat. Menurut Odo pembuatannya gotong royong selama satu minggu dan sebagian besar bahannya adalah kayu yang diambil dari sekitar desa. <br /> <br />Berkat kincir air hasil gotong royong ini, para petani di Kampung Sukasirna tetap bisa menanam selama kemarau 2023. Hasil panen pun tetap aman. <br /> <br />Kabupaten Tasikmalaya mengapresiasi pembangunan kincir air swadaya masyarakat untuk mempertahankan produktivitas di musim kemarau. <br /> <br />Inisiatif Odo Hadori dan rekan-rekannya berhasil mengairi sekitar 20 hektar sawah. <br /> <br />Kemampuan membuat kincir air menyelamatkan petani dari ancaman kemarau. Dukungan pemerintah tetap diharapkan agar petani terus berdaya. <br /> <br />Baca Juga Kincir Air Dari Limbah Bambu Untuk Hiasan Kolam di https://www.kompas.tv/regional/256902/kincir-air-dari-limbah-bambu-untuk-hiasan-kolam <br /> <br /> <br /> <br />Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/462272/petani-arsitek-kincir-air-selamatkan-tasikmalaya-dari-kekeringan
