MALANG, KOMPAS.TV - Solusi ketahanan pangan di tengah mahalnya harga bahan pangan sampai bumbu dapur bisa dilakukan bertani secara mandiri. <br /> <br />Namun untuk warga perkotaan yang sulit menemukan lahan bertani bagaimana caranya? <br /> <br />Di balik gedung tinggi perkotaan, sebuah lahan seluas 3.000 meter, di Jalan Tlogomas RT 6 RW 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, menjadi bukti bahwa bertani bisa dilakukan dimana saja. <br /> <br />Ini dia, Kebun Botol, yang menggunakan sistem pertanian semi hidroponik. Sebanyak 44 warga bergabung dalam kelompok tani. <br /> <br />Karena mayoritas warga adalah para pekerja, mereka pun melakukan penelitian cara bertani dengan cara perawatan yang minim, yang bisa dilakukan di pagi hari sebelum berangkat bekerja atau sore sepulang bekerja. <br /> <br />Akhirnya dipilihlah menggunakan media tanam botol galon bekas. Selain membantu mengurangi sampah plastik, botol galon ini bisa digunakan sebagai media tanam pengganti pot. <br /> <br />"Kegiatan ibu-ibu biasanya monoton, kita coba memberi edukasi ke warga sekitar untuk memanfaatkan lahan-lahan yang sisa. Panen tomat 3 hari sekali dapat 10 sampai 15 kilogram tomat, cabai seminggu sekali sampai 10 kilogram cabai "Kata Didik Mashudi, Ketua Kelompok tani. <br /> <br />Meski awalnya dimulai dengan niat edukasi dan sarana silaturahmi antar warga, kini kelompok tani ini sudah mulai mendapatkan keuntungan. <br /> <br />Warga pun mengaku adanya kebun botol ini memberi banyak manfaat, terlebih di tengah harga bahan pangan dan bumbu dapur yang kerap naik harga dan langka di pasaran. <br /> <br />'Manfaat yang dirasakan bisa membantu perekonomian keluarga, membantu penjualan juga dapat" Kata Yanti, warga. <br /> <br />Dengan adanya kebun botol ini diharap ketahanan pangan warga terbentuk. Selain untuk memenuhi asupan nutrisi, bertani juga bisa menciptakan lingkungan yang sehat. <br /> <br /> <br /> <br />Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/504879/melihat-kebun-botol-solusi-bertani-ala-warga-perkotaan-di-lahan-terbatas